Our social:

Latest Post

Kamis, 02 Juni 2016

Kami Mahasiswa PGSD UNTAN


Here we are.. Assalamu'alaikum teman-teman, bagi yang sudah sering bertandang ke blog saya, nah, jom kita sharing sebentar. Saya tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah yang telah mempertemukan saya dengan teman-teman kuliah ini. Mahasiswa/i PGSD khususnya kelas C angkatan 2014 yang kece badai. Jumlah kami sekelas tidak banyak, hanya 28 orang. Itulah yang membuat kami akrab seperti keluarga. Tak jarang kami mengadakan acara atau hanya berkumpul ria. Sebagian besar dari kami jago olahraga baik itu voly, basket, takraw, tenis meja, bahkan sepak bola dan futsal sekalipun. terbukti dengan baru menjabat sebagai mahasiswa kami sudah meraih 4 piala., hebat kan :)

Manusia, Nilai, Moral, Hukum





A.    Hakikat Nilai Moral dalam Kehidupan Manusia
1.      Nilai dan Moral sebagai Materi Pendidikan
         Nilai memiliki dua kajian utama yaitu etika dan estetika . Estetika berhubungan dengan keindahan sedangkan etika berhubungan dengan kajian baik buruk dan benar salah . Di bidang pendidikan bukan hanya nilai moral individu yang dikaji, tetapi juga membahas kode-kode etik yang menjadi patokan individu dalam kehidupan sosialnya.

2.      Nilai Moral di Antara Pandangan Objektif dan Subjektif Manusia
       Nilai erat hubungannya dengan manusia, baik dalam bidang etika maupun bidang estetika. Manusia memaknai nilai dalam dua konteks yaitu:
a.       Objektif : apabila dia memandang nilai telah ada sebelum adanya
manusia sebagai penilai. Nilai bagi pendangan objektivis tidak tergantung pada objek, melainkan objeklah sebagai penyangga perlu hadir dan menampakkan nilai tersebut.
b.      Subjektif : artinya  nilai sangat tergantung pada subjek yang menilainya. Nilai tidak akan ada tanpa adanya penilai.

       Nilai itu objektif atau subjektif bisa dilihat dari dua kategori :
1)      Apakah objek itu memiliki nilai karena kita mendambakannya atau kita mendambakannya karena objek itu memiliki nilai?
2)      Apakah hasrat, kenikmatan, dan perhatian yang memberikan nilai kepada onjek, atau kita mengalami preferensi karena kenyataan bahwa onjek tersebut memiliki nilai mendahulai dan asing bagi reaksi psikologis badan organis kita?

3.      Nilai di Antara Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder
       Kualitas adalah sebuah sifat , kualitas menentukan tinggi rendahnya derajat sesuatu, kualitas juga menentukan berharga tidaknya suatu objek.
Menurut Frondizi , kualitas dibagi dua :
a.       Kualitas primer : yaitu kualitas dasar yang tanpa itu objek tidak dapat menjadi ada, seperti panjang dan beratnya batu sudah ada sebelum batu itu dipahat . objek tidak ada tanpa adanya kualitas primer ini.
b.      Kualitas sekunder : yaitu kualitas yang dapat ditangkap oleh panca indra, seperti warna, rasa, bau, dan sebagainya.

       Nilai bukan kualitas primer dan bukan kualitas sekunder sebab nilai tidak menambah atau memberi eksistensi objek. Nilai bukan benda atau unsur benda, melainkan sifat, kualitas, yang dimiliki objek tertentu yang dikatakan baik.  Kualitas nilai adalah nilai.

4.      Klasifikasi Nilai di Dalam Dunia Pendidikan
Nilai memiliki polaritas dan hierarki yaitu :
a)      Nilai menampilkan diri dalam aspek positif dan aspek negatif yang sesuai .
b)      Nilai tersusun secara  hierarkis , yaitu  hierarki urutan pentingnya.
Menurut Notonagoro hierarki nilai terbagi menjadi tiga, yaitu :
a.       Nilai material : yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur jasmani manusia.
b.      Nilai vital : yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan aktivitas.
c.       Nilai kerohanian : yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian terbagi menjadi :
·         Nilai kebenaran
·         Nilai keindahan
·         Nilai kebaikan
·         Nilai religius

5.      Pengertian Nilai
      Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Menurut Cheng (1995) : Nilai merupakan sesuatu yang potensial,dalam arti terdapatnya hubungan yang harmonis dan kreatif, sehingga berfungsi untuk menyempurnakan manusia ,sedangkan kualitas merupakan atribut atau sifat yang seharusnya dimiliki. Menurut Lasyo : nilai adalah landasan atau motivasi dalam segala tingkah laku atau perbuatannya.
       Nilai memiliki sifat yang diantaranya ialah :
a.       Nilai itu suatu relitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia.
b.      Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita dan suatu keharusan .
c.       Nilai berfungsi sebagai daya dorong dan manusia adalah pendukung nilai. Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan.

6.      Makna Nilai bagi Manusia
      Nilai itu penting bagi manusia. Setiap individu harus memahami nilai dan kebernilaian dirinya, sehingga dia akan menempatkan diri secara bijak terhadap pergaulan hidup serta akan mengakui dan bijak terhadap keberadaan nilai dan kebernilaian orang lain dalam pergaulan bermasyarakat.
7.      Pengertian Moral
      Moral berasal dari kata bahasa Latin mores yang berarti adat kebiasaan. Kata mores ini mempunyai sinonim mos,moris,manner mores atau manners,morals. Dalam bahasa Indonesia,kata moral berarti akhlak (bahasa Arab)atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup.Kata moral ini dalam bahasa Yunani sama dengan ethos yang menjadi etika.
Ada beberapa unsur dari kaidah moral yaitu :
a.       Hati Nurani yang Merupakan fenomena moral yang sangat hakiki.
b.      Kebebasan dan tanggung jawab.
c.       Nilai dan Norma Moral












B.     Problematika Pembinaan Nilai Moral
1.      Pengaruh Kehidupan Keluarga dalam Pembinaan Nilai Moral
      Saat ini banyak anak yang tidak mengetahui hal-hal yang dikerjakan orang tua di luar rumah untuk mencari penghasilannya. Problematika utama bagi kehidupan orang tua yang bekerja terletak pada tingkat komunikasi dengan anak-anaknya.  Persoalan lain adalah terjadinya migrasi atau perpindahan domisili. Pola-pola hubungan seringkali menjadi rusak  dengan muncul murid dan guru baru, begitu pula teman baru dan lingkungan baru .

2.      Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Pembinaan Nilai Moral
       Setiap orang yang menjadi teman anak akan menampilkan kebiasaan  yang dimilikinya. Prngaruh pertemanan  ini akan berdampak positif manakala isu dan kebiasaan teman itu positif dan begitu pula sebaliknya. Pertemanan yang paling berpengaruh timbul dari teman sebaya karena mereka relatif terbuka dan integritas pergaulannya relatif sering.

3.      Pengaruh Figur Oteritas Terhadap Perkembangan Nilai Moral Individu
        Jika seorang anak mengungkapkan kebingungannya dihadapan orang dewasa, kadang-kadang masih ada kecenderungan untuk menganggap bahwa keyakinan orang dewasa tetap harus dipertahankan, pada-hal anak harus memiliki keyakinan.  Maka dari itu perlunya lembaga pendidikan.

4.      Pengaruh Media Komunikasi Terhadap Perkembangan Nilai Moral
       Media komunikasi bisa pengaruh positif maupun negatif terhadap perkembangan nilai moral anak. Maka perlunya institusi pendidikan mengupayakan jalan keluar bagi peserta didiknya dengan pendekatan klasifikasi nilai.

5.      Pengaruh Otak atau Berpikir Terhadap Perkembangan Nilai Moral
        Dalam konteks pendidikan, berpikir dimaknai sebagai  proses yang berhubungan dengan penyelidikan dan pembuatan keputusan. Dimanapun keputusan diambil, pertimbangan nilai pasti terlibat.

C.    Manusia dan Hukum
1.      Pengertian Hukum
       Disamping adat istiadat , ada kaidah yang mengatur kehidupan manusia yaitu hukum, yang biasanya dibuat dengan sengaja danmempunyai sanksi yang jelas.
        Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Dalam setiap pembentukan suatu bangunan struktur sosial yang bernama masyarakat, maka selalu akan dibutuhkan bahan yang bersifat sebagai “semen perekat” atas berbagai komponen pembentuk dari masyarakat itu, dan yang berfungsi sebagai “semen perekat” tersebut adalah hukum.

2.      Tujuan Hukum
      Tujuan hukum menurut pembukaan UUD 1945 alinea keempat yang berbunyi “..untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial”.
     Pada umumnya hukum bertujuan menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat. Selain itu, menjaga dan mencegah agar tiap orang tidak menjadi hakim atas dirinya sendiri, namun tiap perkara harus diputuskan oleh hakim berdasarkan dengan ketentuan yang sedang berlaku.


3.      Penegakan Hukum
       Penegakan hukum adalah ukuran untuk kemajuan dan kesejahteraan suatu negara. Karena, negara-negara maju di dunia biasanya ditandai, tidak sekedar perekonomiannya maju, namun juga penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) –nya berjalan baik.
         Friedmann berpendapat bahwa efektifitas hukum ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:
1. Substansi hukum yaitu materi atau muatan hukum.
2. Aparat Penegak Hukum
3. Budaya Hukum yaitu budaya masyarakat yang tidak berpegang pada pemikiran bahwa hukum ada untuk dilanggar, sebaliknya hukum ada untuk dipatuhi demi terwujudnya kehidupan bersama yang tertib dan saling menghargai sehingga harmonisasi kehidupan bersama dapat terwujud.

D.    Hubungan Hukum dan Moral
        Hukum tidak akan berarti tanpa dijiwai dengan moralitas, hukum akan kosong tanpa moralitas. Oleh karena itu kualitas hukum harus selalu diukur dengan norma moral, perundang-undangan yang immoral harus diganti. Di sisi lain, moral juga membutuhkan hukum, sebab moral tanpa hukum hanya angan-angan saja kalau tidak diundangkan atau dilembagakan dalam masyarakat.
Ada empat perbedaan hukum menurut K. Bertens yaitu
a.       Hukum lebih dikodifikasikan daripada moralitas, artinya dibukukan secara sistematis daripada moralitas.
b.      Meski hukum dan moral mengatur tingkah laku manusia, namun hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja, sedangkan moral menyangkut jug sikap batin seseorang.
c.       Sanksi yang berkaitan dengan hukum berbeda dengan sanksi yang berkaitan dengan moralitas.
d.      Hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak Negara. Sedangkan moralitas didasarkan pada norma-norma moral yang melebihi para individu dan masyarakat.
Sedangkan Gunawan Setiardja membedakan hukum dan moral, yaitu:
a.       Pada dasarnya hukum memiliki dasar yuridis, consensus, dan hukum alam, sedangkan moral berasal dari hukum alam.
b.      Hukum bersifat heteronom, yaitu datang dari luar diri manusia, sedangkan moral bersifat otonom, yaitu berasal dari dalam diri manusia.
c.       Hukum dapat dipaksakan, sedangkan moral tidak dapat dipaksakan
d.      Sanksi hukum bersifat yuridis dan lahiriah, sedangkan sanksi moral berbentuk kodrasi, batiniah, menyesal, malu terhadap diri sendiri.
e.       Hukum bertujuan mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan bernegara, sedangkan moral bertujuan mengatur kehidupan manusia sebagai manusia

f.       Hukum tergantung pada waktu dan tempat, sedangkan moral secara objektif tidak tergantung pada tempat dan waktu.

Makalah Manajemen dan Pendukung Sistem Bimbingan di SD



BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan pengembangan program, pengembangan staf, pemanfaatan sumber daya, dan pengembangan penataan kebijakan. Dimana Konselor secara terus menerus berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya.
Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf Sekolah/Madrasah lainnya, dan pihak institusi di luar Sekolah (pemerintah, dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang pelayanan bantuan yang telah diberikannya kepada para peserta didik, menciptakan lingkungan Sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling.
Manajemen program merupakan suatu program pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah.
Pendekatan perkembangan dalam bimbingan di SD memberi peluang untuk menata struktur program bimbingan yang komprehensif meliputi ; layanan dasar bimbingan, layanan responsif, layanan perencanaan individual dan pendukung system. Pengembangan program bimbingan di SD diawali dengan menelaah kearakteristik dan kebutuhan murid SD.

B.   Rumusan Masalah
1.    Bagaimana struktur bimbingan di SD ?
2.    Bagimana dengan pengembangan program bimbingan di SD?
3.    Bagaimana keterpaduan program bimbingan dalam kegiatan belajar mengajar?
4.    Adakah organisasi dan administrasi bimbingan di SD?

C.   Tujuan
1.      Memenuhi tugas kelompok mata kuliah Bimbingan di SD dan Anak Berkebutuhan Khusus oleh
2.      Untuk mengetahui struktur, pengambangan, serta organisasi dan administrasi program bimbingan di SD
3.      Sebagai panduan agar mampu memanajemen dan mendukung bimbingan di SD





BAB II
PEMBAHASAN

A.  Struktur Program Bimbingan di SD
Stuktur program bimbingan perkembangan yang komprehensif terdiri atas empat komponen, yaitu: (1) Layanan Dasar Bimbingan, (2) Layanan Responsif, (3) Sistem Perencanaan Individual, dan (4) Pendukung Sistem.

1.    Layanan Dasar Bimbingan
Tujuan layanan dassar bimbingan adalah membantu seluruh murid dalam mengembangkan keterampilan dasar untuk kehidupan. Komponen ini merupakan landasan bagi program bimbingan perkembangan. Isi layanan dasar bimbingan adalah hal-hal umum yang perlu dikembangkan bagi seluruh murid melalui layanan bimbingan konseling dalam membantu murid mengambangkan keterampilan hidup dan perilaku efektif. Fungsi layanan dasar bimbingan lebih bersifat pengembangan karena merupakan upaya mempersiapkan isi bimbingan secara sistemik bagi seluruh murid.
Contoh materi program bimbingan perkembangan di SD mencakup:
a.    Self-esteem
b.    Motivasi berprestasi
c.    Keterampilan pengambilan keputusan merumuskan tujuan, dan membuat perencanaan
d.    Keterampilan pemecahan masalah
e.    Keefektifan dalam hubungan antar pribadi
f.     Keterampilan berkomunikasi
g.    Keefektifan dalam memahami lintas budaya
h.    Perilaku yang bertanggung jawab.

2.    Layanan Responsif (Responsive Service)
Tujuan komponen layanan responsif adalah mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan/atau masalah pengembangan pendidikan.
Sekalipun layanan ini merespon kepedulian siswa, beberapa topik telah diindetifikasi sebagai topik yang memiliki prioritas dan/atau relevan dalam adegan sekolah dasar. Topik yang menjadi prioritas di Texas pada tahun 1990an adalah:
a.    Kesuksesan akademik.
b.    Masalah bunuh diri pada kalangan remaja dan anak.
c.    Kenakalan anak.
d.    Masalah putus sekolah.
e.    Penyalahgunaan obat.
f.     Kehamilan pada usia sekolah.

Layanan responsif bersifat preventif dan remedial. Preventif dengan memberikan intervensi kepada siswa agar mampu menentukan pilihan pada situasi tertentu. Remedial dengan memberikan intervensi terhadap siswa yang tidak memiliki kemampuan memecahkan masalah.

3.    Sistem Perencanaan Individual
Tujuannya adalah merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir dan pengembangan sosial oleh dirinya sendiri. Isi perencanaan individual adalah hal yang menjadi kebutuhan siswa untuk memahami perkembangan dirinya.
Melalui sistem perencanaan individual siswa dapat :
a.    Mempersiapkan pendidikan, karir dan tujuan sosial pribadi.
b.    Merumuskan rencana untuk mencapai tujuan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
c.    Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya.
d.    Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya.
e.    Mengambil keputusan.

4.    Pendukung Sistem (System Support)
Komponen pendukung sistem lebih diarahkan pada pemberian layanan dan kegiatan manajemen yang tidak secara langsung bermanfaat bagi siswa. Layanan mencakup:
a.    Konsultasi dengan guru – guru.
b.    Dukungan bagi program pendidikan orang tua dan masyarakat.
c.    Partisipasi dalam kegiatan sekolah.
d.    Implementasi dan program standarisasi instrument tes.
e.    Kerjasama dalam melaksanakan riset yang relevan
f.     Memberikan masukan terhadap pembuat keputusan dalam kurikulum pengajaran, berdasarkan perspektif siswa.

B.   Pengembangan Program Bimbingan
Tugas pokok guru di SD dalam melaksanakan bimbingan adalah : menyususn program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan analisis hasil pelaksanaan bimbingan dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya (keputusan Menpan Nomor 93, 1995). Penyusunan program bimbingan konseling adalah membuat rencana pelayanan bimbingan konseling dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karier.
Program bimbingan di SD terdiri atas program umum dan program khusus. Dari program umum kemudian dijabarkan kembali menjadi program khusus, diantaranya adalah:
1.    Pengumpulan Data Siswa
Salah satu tujuan dari keseluruhan program bimbingan di SD adalah identifikasi awal tentang identitas murid, kemampuan, keberbakatan dan keterbatasan murid, serta kondisi sosial ekonomi orang tua murid. Kegiatan pengumpulan data umumnya dilaksanakan pada setiap tahun ajaran baru.
2.    Layanan Orientasi dan Pemberian Informasi
Layanan orientasi dan pemberian informasi pada awal memasuki sekolah merupakan kegiatan yang strategis. Dalam kegiatan ini murid diperkenalkan dengan guru – guru, kelas, tempat belajar, ruangan perpustakaan, ruang UKS, WC, dan fasilitas sekolah lainnya, tata tertib sekolah cara belajar dan cara bergaul. Mengingat anak SD masih kecil maka orang tua dilibatkan dalam kegiatan orientasi dan pemberian informasi, agar orang tua menjelaskan kembali kepada anaknya dengan gaya bahasa yang lebih bisa dipahami. Hal ini merupakan bentuk dari bimbingan kepada orang tua agar lebih memahami serta meningkatkan bantuannya terhadap perkembangan anaknya di sekolah.
3.    Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan penempatan dan penyaluran yang perlu dikembangkan di SD mencakup : layanan penempatan dan penyaluran bagi kelas 1, penempatan dan penyaluran dalam kegiatan ekstra kurikuler serta penempatan dalam kelas unggulan.
a.    Layanan penempatan dan penyaluran bagi kelas 1
Pengalaman pra sekolah mempengaruhi kemampuan murid dalam belajar di sekolah. Para siswa kelas 1 SD memiliki pengalaman pra sekolah yang berbeda-beda baik ketika di TK maupun di rumah. Kemampuan murid kelas 1 sangat beragam. Ada murid yang telah menguasai kemampuan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung ada yang belum. Dalam peraturan TK belum boleh mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung namun dalam kenyataan banyak anak TK yang telah mengenalnya, termasuk orang tua murid dirumah.
Andai kata ketika masuk kelas satu diadakan seleksi sederhana dalam kemampuan mambaca, menulis dan berhitung, maka hasil seleksi ini berguna untuk keperluan penempatan, bukan untuk menerima atau menolak calon murid. Hasil seleksi dapat dimanfaatkan untuk penempatan tempat duduk. Anak yang belum menguasai kemampuan dasar calisting disuruh duduk dibangku sebelah depan supaya mudah dibantu guru atau juga bisa anak yang belum menguasai kemampuan dasar calisting duduk sebangku dengan murid yang sudah menguasai sehingga dapat berperan sebagai tutor sebaya. Model penempatan dan penyaluran seperti ini dapat diterapkan dalam kelas – kelas selanjutnya termasuk dalam kelompok belajar tambahan.
b.    Layanan Penempatan Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler
SD bermutu biasanya memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler, sehingga siswa bingung dalam menentukan pilihannya. Guru SD diharapkan memiliki pemahaman tentang minat bakat siswa, sehingga dapat menempatkan siswa dalam ekstrakurikuler yang cocok.
c.    Layanan Penempatan Dan Penyaluran Dalam Kelas Unggulan
Siswa pilihan untuk siswa kelas unggulan adalah siswa kelas IV, sebab siswa kelas IV dapat berpikir rasional. Cara mendapatkan siswa unggulan adalah dengan memilih siswa yang memenuhi persyaratan.

C.  Keterpaduan Program Bimbingan Dalam KBM
Sampai saat ini dalam sistem pendidikan sekolah dasar, layanan bimbingan masih menjadi tugas terpadu dari guru kelas. Pelaksanaan bimbingan di SD tetap memerlukan dukungan manajerial yang memadai. Aspek – aspek yang perlu dipertimbangkan dalam upaya penyelenggaraan layanan bimbingan di SD antara lain :
1.    Aspek Program
Program bimbingan biasa menyangkut bimbingan belajar, pribadi, dan sosial serta bimbingan karir. Isi bimbingan dari jenis bimbingan tersebut perlu dikembangkan secara relevan dengan konsep dan kebutuhan yang dihadapi siswa dalam perkembangannya.
2.    Aspek Ketenagaan
Guru SD perlu memiliki pemahaman yang tepat dan ketrampilan yang memadai untuk melaksanakan layanan bimbingan, sebab guru SD dipandang sebagai personel yang paling mungkin melaksanakan layanan bimbingan.
3.    Aspek Prosedur/ Teknik
Bimbingan di sekolah dasar lebih berorientasi kepada pengembangan. Oleh karena itu sistem peluncuran bimbingan di sekolah dasar menghendaki keterpaduan antara pendekatan dan teknik instruksional dengan transaksional. Pengembangan iklim pembelajaran yang kondusif bagi pengembangan perilaku efektif baik yang menyangkut pengembangan perilaku belajar, pribadi dan sosial, serta perkembangan karier sebagai strategi yang efektif untuk digunakan di SD.
4.    Daya Dukung Lingkungan
Proses bimbingan hanya akan berjalan dengan baik jika mendapat tempat yang layak dalam sistem itu, sehingga layanan bimbingan akan dirasakan memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Para guru bukanlah petugas yang dapat bekerja sendiri tanpa bantuan dan dukungan manajerial, sosial, maupun sarana fisik merupakan salah satu faktor penting dari upaya peningkatan mutu pelaksanaan bimbingan di sekolah dasar.

D.  Organisasi Dan Administrasi Bimbingan Di SD
1.    Organisasi
Pelaksanaan bimbingan di SD saat ini dilaksanakan langsung oleh guru kelas. Pemerintah memiliki rencana untuk mengangkat guru pembimbing sesuai dengan PP 38 tentang Tenaga Pendidikan, paling tidak untuk satu kecamatan seorang guru pembimbing.
2.    Uraian Tugas Personil
Tugas dan tanggung jawab setiap personil dalam kegiatan layanan bimbingan sehingga dapat memahami tugas-tugasnya dan melaksanakannya sesuai dengan tugas masing-masing.
a.    Kepala sekolah
Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan, termasuk layanan bimbingan, tugas Kepala Sekolah adalah sebagai berikut:
1)      Mengkoordinasikan kegiatan layanan bimbingan
2)   Menyediakan tenaga, sarana, dan fasilitas yang diperlukan
3)   Melakukan supervisi terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kegiatan layanan bimbingan

b.    Guru kelas/ Guru pembimbing
Sebagai pelaksana pelayanan bimbingan, guru kelas bertugas sebagai berikut:
1)      Merencanakan program bimbingan, termasuk rencana mengidentifikasi siswa bermasalah (anak berbakat, anak berkelainan)
2)   Melakukan koordinasi dengan kepala sekolah dan guru mata pelajaran
3)   Melaksanakan kegiatan layanan bimbingan dengan mengintregasikan pada mata pelajaran masing – masing
4)   Menilai proses dan hasil layanan bimbingan
5)   Menganalisa hasil penelitian layanan bimbingan
6)   Melaksanakan tindak lanjut/ alih tangan berdasarkan hasil penilaian
7)   Membantu siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler

c.    Guru mata pelajaran
a)      Melaksanakan bimbingan melalui PBM sesuai dengan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
b)      Berkonsultasi dengan guru kelas/guru pembimbing dalam hal masalah – masalah yang berkaitan dengan bimbingan.
c)      Bekerja sama dengan guru kelas/ guru pembimbing dalam hal pengembangan program bersama/ terpadu.

3.    Pengawasan
Untuk menjamin terlaksananya layanan bimbingan secara tepat diperlukan kegiatan pengawasan, bimbingan baik secara teknis maupun administratif. Fungsi pengawasan adalah memantau, menilai, memperbaiki, meningkatkan dan mengembangkan kegiatan layanan bimbingan di SD di tingkat nasional kepengawasan berada di Direktorat Pendidikan Dasar. Di tingkat wilayah kepengawasan berada di seksi Pendidikan Dasar. Di tingkat kecamatan kepengawasan berada di penilik TK/ SD.

4.    Sarana dan Prasarana
Program yang telah disusun sedemikian rupa, dapat terlaksana dengan efektif apabila didukung oleh tersedianya sarana dan prasarana yang memadai sesuai dengan kekhususan layanan bimbingan.
Sarana yang diperlukan untuk menunjang layanan bimbingan adalah :
a)    Alat pengumpul data
Seperti format – format, pedoman observasi, pedoman wawancara, angket, catatan harian, daftar nilai prestasi belajar, kartu konsultasi dan sebagainya.
b)   Alat penyimpan data
Kartu pribadi, buku pribadi, map, dan sebagainya
c)    Perlengkapan Teknis
Seperti buku pedoman/petunjuk, buku informasi (pribadi-sosial, pendidikan, dan karier), paket bimbingan (pribadi, belajar dan karier)
d)   Perlengkapan administrasi
Seperti blanko surat, agenda surat, alat-alat tulis, dan sebagainya

Prasarana penunjang layanan bimbingan adalah :
1)   Ruang bimbingan
2)   Dalam kondisi ideal ruang bimbingan terdiri dari ruang tamu, ruang konsultasi, ruang diskusi, ruang dokumentasi, dan sebagainya.

5.    Anggaran biaya
Anggaran biaya diperlukan untuk menunjang kegiatan layanan bimbingan seperti biaya surat menyurat, transportasi, penataran, dan sebagainya.

6.    Kerjasama
·         Kerjasama dengan pihak di dalam sekolah
·         Kerjasama antara guru kelas dan guru mata pelajaran lainnya serta tenaga administrasi pendidikan.
·         Kerjasama dengan pihak di luar sekolah
Antara lain : ortu murid, BP3, organisasi profesi, puskesmas, psikolog, dan sebagainya.






BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Berdasarkan uraian materi pada bab pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa struktur program bimbingan dan konseling yang komprehensif terdiri atas empat komponen, yaitu :
1.      Layanan Dasar Bimbingan
2.      Layanan Responsif
3.      Sistem Perencanaan Individual, dan
4.      Pendukung Sistem.
Tugas pokok guru di sekolah dasar dalam melaksanakan bimbingan adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi dan menganalisis hasil pelaksanaan bimbingan serta tindak lanjut terhadap peserta didik. Penyusunan program bimbingan dan konseling adalah membuat rencana pelayanan bimbingan dan konseling dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan social, bimbingan belajar, dan bimbingan karier.
Program bimbingan di SD terdiri atas program umum dan program khusus. Aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya penyelenggaraan bimbingan adalah aspek program, aspek ketenagaan,aspek prosedur/teknik, dan daya dukung lingkungan. Organisasi dan administrasi bimbingan di SD dapat dilakukan oleh kepala sekolah, guru kelas/guru pembimbing, dan guru mata pelajaran yang selalu diawasi baik secara teknis maupun adminidtratif.
Selain itu perlu juga kerjasama dan penyediaan sarana dan prasarana yang mampu mendukung pelaksanaan layanan bimbingan. Sarana yang diperlukan untuk menunjang layanan bimbingan yaitu alat pengumpul data, alat penyimpan data, perlengkapan teknis, dan perlengkapan administratif. Sedangkan prasarananya adalah ruang bimbingan yang bebas digunakan guru untuk melakukan bimbingan seperti perpustakaan, ruang kelas, ruang konsultasi, ruang tamu dan sebagainya.

B.   Saran
Mengetahui bahwa bimbingan di SD sangat penting, akan sangat baik apabila bimbingan yang diberikan bukan hanya bimbingan dalam pengetahuan intelektual tetapi juga dalam pembentukan karakter. Selain itu selain bimbingan yang diberikan di sekolah alangkah lebih baik jika di dalam lingkungan keluarga juga memberikan bimbingan yang diperlukan oleh peserta didik.










DAFTAR PUSTAKA


Nursyamsiar.2009.Bahan Ajar Bimbingan di SD.Pontianak.